Cerpen.

                     Tanpa tanda jasa

       Dihari selasa tepat dipagi hari seorang kakek bernama Syarifudin(85) sedang membantu istrinya yang bernama Zahra Maimunah(78) membuat cendol untuk didagang kan sekitar pasar yang berjarak tidak jaub dari rumahnya.Syarifudin adalah seorang veteran atau sosok pahlawan Indonesia yg sudah lama pensiun,sedangkan istrinya Zahra Maimunah hampir 58 tahun setia mendampingi seorang suami.
           Syarifudin adalah sosok orang yang tidak pernah lelah untuk menghidupi keluarganya.Syarifudin selalu berjualan cendol mengelilingi pasar bersama istrinya tercinta,walaupun panas hujan serta lelah tapi tidak sedikit pun membuat syarifudin dan Zahra mundur dengan rentan usia yang sudah sangat tua.
           Syarif dan Zahra tidak memiliki anak,tapi tidak membuat Zahra berkecil hati karena masih ada sosok suami yg setia mendampinginya kapan saja,sedang kan pihak desa belum mengurus pensiunan Syarif sebagai veteran walaupun Syarif sudah memenuhi semua persyaratan.
            Tepat dipagi hari pukul 8 Syarif sudah menunggu didepan kantor desa membawa map berwarna hijau,dengan bepakaian rapi serta memakai peci syarif duduk dibangku luar kantor menunggu pengurus desa untuk mengurusi pensiunannya.Setelah beberapa saat datang lah karyawan desa dan membuka pintu kantor desa serta bertanya kepada Syarifudin,"ada yang bisa saya bantu pak",dan Syarif pun menjawab "Saya ingin mengantarkan map ini kepada kepala desa"ujar Syarif .Dan anggota pengurus desa mengijinkan Syarif masuk kekantor untuk menunggu kepala desa datang.
          Setelah kepala desa datang Syarif pun segera menyerahkan map hijau tersebut kepada kepala desa dan kepala desa pun menerima map tersebut sambil berkata "walaupun bapak sudah tua tapi bapak selalu sabar dan setia menunggu serta tidak pernah lelah untuk mengantar map hijau ini yang berisi persyaratan gajih pensiunan veteran padahal bapak sudah hampir 6 kali datang kesini karena persyaratan bapak tidak lengkap,tapi sekarang persyaratan bapak sudah lengkap jadi bapak jangan khawatir".Syarif pun tersenyum sambil berkata "aku tidak khawatir kalau aku tidak makan uang gajih ku karena aku mengabdi dengan bangsa Indonesia penuh perjuangan demi anak dan cucu penerusnya supaya mereka tidak seperti kami yang mempertaruhkan nyawa demi bangsa tanpa ada upah dan kami ikhlas demi NKRI untuk melaksanakannya".
          Setelah pulang dari kantor desa Syarif pun kembali bersama istri untuk berjualan cendol keliling dengan penuh semangat menghabiskan masa tua bersama-sama.

1 komentar:

Diana Handayani mengatakan...

Politik di negara mana itu

Posting Komentar